Skip to main content

Pengalaman IUFD Pertama (Part 2)

Mas Muhammad usia 19/20 minggu


Kalau di bagian pertama saya menulis tentang apa itu IUFD dan pertama kalinya saya mendengar istilah IUFD. Kali ini saya akan menuliskan tentang tindakan dan perawatan yang dokter terapkan ketika saya mengalami kasus IUFD di tahun 2018 lalu. 

Tindakan dan perawatan.
Penerbangan kami seharusnya jam 2 siang WITA, tapi kami sampai di bandara Juanda jam 6 sore WIB karena pesawat sempat mengalami delay selama kurang lebih 3 jam. Sesampainya di bandara, orang tua dan om saya sudah menanti untuk menjemput kami berdua. Dalam perjalanan menuju kota kelahiran saya, kami hanya sempat mampir untuk makan malam kemudian langsung melanjutkan perjalanan.
Setibanya di kota kelahiran, Sabtu malam, waktu menunjukkan jam 10 lewat. Ibu meminta saya untuk langsung menuju salah satu rumah sakit swasta tempat dimana saya akan melakukan perawatan. Melakukan pendaftaran dan menceritakan kronologis kejadian, kami diminta perawat untuk menunggu karena dokter jaga malam itu sedang melakukan beberapa tindakan operasi. Cukup lama kami menunggu sampai akhirnya nama saya dipanggil. Dokter melakukan USG kembali dan mengatakan bahwa iya, janin telah meninggal. Dokter memberikan beberapa saran kapan perawatan mau dilakukan. Malam itu juga bisa langsung pesan kamar. Suami dan ibu kompak menjawab malam itu juga. Tapi saya langsung menimpali dan meminta ijin jika diperbolehkan besok pagi saja karena saat itu saya sangat lelah dengan drama perjalanan kami dan juga saya belum sempat tidur dari kemarin. Dokter mengijinkan dan mempersilahkan untuk pulang dan berisirahat dan datang kembali besok jam 9 pagi. Setelahnya kami langsung pulang dan malam itu saya tidur dengan sangat nyenyak.

Keesokan harinya, setelah mandi, sarapan dan packing beberapa perlengkapan persiapan menginap, kami berangkat menuju rumah sakit. Perjalanan dari rumah menuju rumah sakit tersebut hanya ditempuh kurang lebih 15 menit. Sesampainya di rumah sakit, saya langsung diminta untuk menuju ruang IGD. Sembari suami melakukan pendaftaran, saya mulai dipasang infus, dan perawat memasukkan sesuatu seperti obat ke dalam vagina saya. Jangan ditanya rasanya ya gaess. Hehe. Baru saya ketahui bahwa itu adalah obat untuk merangsang agar rahim saya melakukan kontraksi. Perawat mengatakan bahwa akan diobservasi efek dari obat tersebut selama 4-5 jam. Setengah jam kemudian, mertua saya datang, wah ambyarrr lagi ini mata gaess. Tapi bapak mertua menguatkan bahwa saya harus pasrah dan ikhlas. Kalau ibu mertua hanya bisa mengelus kepala saya sambil menangis.

Satu jam kemudian, saya dipindah menuju kamar. Saat itu banyak saudara dekat yang datang menjenguk karena kebetulan juga hari Minggu. Jadilah di dalam kamar ramai riuh penuh dengan candaan selama saya menanti getaran kontraksi. Lima jam pertama berlalu. Perawat memeriksa apakah sudah terjadi bukaan, apakah saya merasakan kontraksi. Saya jawab tidak. Belum. Memang benar saya belum merasakan apa-apa. Bahkan sebelumnya saya sempat meminta suami untuk membelikan saya bakso langganan kesukaan saya. Dan makan siang dari rumah sakit pun saya habiskan tak tersisa. Laper apa doyan. Wkwk. Karena belum terjadi pembukaan, perawat memasukkan obat lagi ke dalam vagina saya. Dan saya harus menunggu lagi selama 4-5 jam. Hari itu total obat induksi yang dimasukkan ke dalam vagina saya adalah 4 obat. Terakhir kali dimasukkan jam 11 malam dan akan diperiksa lagi keesokan harinya. Jika belum juga terjadi pembukaan, maka saya akan dibawa ke ruang operasi untuk tindakan selanjutnya. Malam itu alhamdulillah saya tidur dengan nyenyak.

Keesokan harinya sekitar jam 4 atau jam 5 pagi saya lupa, perawat masuk untuk memeriksa kondisi saya. Pembukaan belum juga terjadi. Kontraksi belum juga terasa. Perawat meminta saya untuk puasa beberapa jam sampai nanti jam 7 pagi akan dilakukan persiapan tindakan operasi.
Jam 7 lewat, perawat masuk kamar untuk melakukan persiapan tindakan operasi seperti mencukur rambut di sekitar area bawah dan mengganti pakaian saya dengan jubah warna hijau yang selama ini hanya saya lihat di film-film. Kemudian saya didorong menggunakan kursi roda menuju ruang tunggu operasi ditemani ibu saya. Suami kemana? Suami ada, menunggu di luar kamar karena dia punya fobia terhadap darah dan segala macam alat medis. Awalnya kesel ini orang kok nggak mau nemenin bininya. Tapi saya maklumi daripada dia pingsan tambah bikin repot. Hihi.
Sejam menanti di ruang tunggu operasi, sebelumnya ada beberapa kali suntikan saya lupa. Sepertinya itu obat bius. Tidak lama perawat meminta ibu saya untuk keluar karena ternyata operasi tidak boleh ditemani. Wah nervous gaess. Tapi ibu berpesan untuk banyak-banyak berdoa. Yakin semuanya akan segera selesai.

Lalu perawat mendorong tempat tidur saya menuju ruang operasi. Suasana kaku dan dingin mulai terasa. Tapi dicairkan dengan salah seorang perawat laki-laki yang terus mengajak saya ngobrol untuk menghilangkan rasa nervous. Yang terakhir saya ingat, beberapa kali saya diberi suntikan kemudian kaki diangkat menuju dada. Setelahnya saya hanya dapat mendengar perawat perempuan memanggil nama saya dan mengatakan bahwa operasi telah selesai. Alhamdulillah. Dan perawat tersebut meminta suami saya untuk terus mengajak saya bicara. Entah apa saja yang waktu itu saya obrolkan dengan suami. Saya lupa. Suami bilang saya bertanya berkali-kali dengan pertanyaan yang sama, anaknya sudah keluar atau belum. Setelah saya benar-benar sadar waktu sudah menunjukkan jam 10 siang. Kembali lagi saya bertanya kepada suami apakah anak kami sudah keluar. Suami menjawab belum. Tentu saya kaget. Lah tadi masuk ruang operasi itu ngapain. Kemudian ibu saya datang dan menjelaskan bahwa calon cucunya tidak dapat dikeluarkan dengan jalan operasi karena ukurannya yang sudah besar dan terjadi pelengketan dengan rahim saya. Tidak mungkin dipaksa karena jika dipaksa dikhawatirkan rahim ikut tertarik dan resiko terbesar dari pengangkatan rahim adalah kemungkinan kecil bagi saya untuk hamil kembali. Sekali lagi Tuhan meminta saya untuk sabar, pasrah dan ikhlas.

Tidak berapa lama, perawat datang mengecek infus saya. Belakangan saya baru tahu bahwa saya diinduksi melalui infus. Kata sepupu saya itu namanya didrip. Saya tidak tahu istilah kedokterannya. Sejam kemudian kontraksi halus mulai terasa. Seperti kram perut ketika masa haid. Kontraksi terus berlanjut dan semakin terasa sampai beberapa jam kemudian. Kejadian yang sempat membuat panik keluarga saya adalah saya menggigil kedinginan tengah malam. Tapi badan saya berkeringat. Perawat pun dipanggil. Infus dimatikan. Pendingin kamar juga dimatikan. Bisa jadi itu adalah efek dari obatnya kata perawat. Tapi kalau di flashback, selama menikah bahkan sebelumnya, saya pernah beberapa kali mengalami menggigil seperti hari itu tanpa penggunaan obat sebelumnya. Biasanya kalau tidur tiba-tiba kedinginan terus menggigil, padahal harinya panas. Pernah juga setelah mandi tiba-tiba menggigil padahal cuacanya tidak hujan atau mendung. Sejak 2018 itu sampai sekarang saya menulis ini, saya mengalami menggigil beberapa kali. Dan sampai sekarang tidak tahu penyebabnya apa. Usut punya usut, ibu saya pun sering mengalami hal tersebut. Apakah iya yang saya alami adalah turunan dari ibu saya? Entahlah. Perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk itu.

Kembali lagi ke pengalaman kontraksi dan menggigil yang tidak diketahui sebabnya tengah malam itu, saya berusaha untuk tidur dan suami selalu memeluk saya agar menggigil berkurang. Selimut dua lapis dan pelukan suami membuat saya lumayan tertidur malam itu. Meskipun tidak dapat tidur nyenyak karena kontraksi yang semakin terasa.
Keesokan paginya, karena perut yang kosong, saya meminta tolong ibu mertua untuk menyuapi saya dengan makanan atau buah. Pagi itu hanya ada ibu mertua dan suami. Ibu saya harus ke tempat kerjanya ‘setor muka’ karena kemarin harus ijin tidak datang. Pagi itu kontraksi semakin terasa dan jaraknya semakin singkat. Setiap kali kontraksi belangsung, suami memegang tangan saya dan bersama-sama kami melakukan nafas panjang. Terus begitu. Kata suami agar kontraksinya tidak terlalu terasa. Entah dapat ilmu atau baca dari mana, saya manut aja.
Jam 8 pagi, ketika ibu mertua akan menyuapi saya dengan sepotong pisang, kontraksi hebat itu kembali datang. Dengan bantuan suami saya melakukan nafas panjang tapi kali itu berat dan panjang sekali saya mengambil nafas hingga akhirnya ‘’plung’’ seperti ada yang keluar, perut saya terasa kosong dan lega. Lalu saya bilang ke ibu mertua dan suami, kok sepertinya ada yang keluar. Berdua kalang kabut mencari perawat, tidak berani melihat apa yang saya bilang sesuatu tadi. Oh ya, saya pakai kain jarik dan selimut sehingga tidak terlihat apa yang keluar kecuali harus membuka selimut dan kain jariknya.

Tidak lama perawat datang dan memeriksa, ‘’Iya bu, ini sudah keluar tapi plasentanya masih belum sepenuhnya keluar. Ibu saya pindah ke ruang bersalin ya.’’ Saya pun dipindah ke ruang bersalin untuk mengeluarkan plasenta dan juga proses pembersihan rahim. Rasanya wes embuh yaa. Diobok-obok itu area bawah kayak mati rasa karena beberapa hari kemarin perawat memeriksa pembukaan berulang kali. Ketika perawat mengatakan bahwa jenis kelamin anak saya laki-laki, tetesan air mata tidak sanggup saya tahan. Saya teringat suami yang begitu mendambakan anak laki-laki di kehamilan ini. Saya berusaha menahan tangis dan menarik nafas panjang. Perawat juga menanyakan apakah saya mau melihat bayi saya, saya katakan tidak. Kenapa? Karena saya tidak sanggup melihatnya, saya takut saya semakin trauma dan susah move on dari kesedihan. Biarkan kenangan indah selama kehamilan yang saya simpan.

Setelah janin dikeluarkan dan rahim saya dinyatakan bersih, ibu dan suami bergegas untuk pulang dan menguburkannya dengan dibantu ayah dan tokoh agama setempat yang sudah standby di rumah. Selama di ruang bersalin, saya ditemani ibu mertua. Cukup lama saya di ruang bersalin. Saya pun akhirnya makan disuapi ibu mertua karena sudah lemas sekali dari kemarin tidak sanggup makan. Setelah beberapa jam di ruang bersalin, suami dan ibu datang. Perawat mengatakan bahwa saya akan dipindah ke kamar tapi sebelumnya saya diminta untuk belajar bangkit dari tempat tidur, duduk dan berjalan sebentar. Kalau dirasa sudah tidak pusing saya bisa dipindahkan ke kamar. Tapi nggak jalan kaki loh gaess, tetep pakai kursi roda. Hehe.
Sesampainya di kamar saya mulai belajar berjalan, ke kamar mandi untuk BAK dan mengganti perlak rumah sakit dengan pembalut. Sore harinya, dokter yang menangani saya datang untuk visite dan memeriksa keadaan saya. Semuanya dinyatakan oke dan saya diperbolehkan pulang sore itu juga. Alhamdulillah. Pemulihan pun berlanjut di rumah.

2018 adalah pengalaman IUFD yang pertama dan membawa trauma selama berbulan-bulan. Ternyata di akhir tahun 2019 ini saya mengalami IUFD yang kedua kalinya. Iya, kedua kalinya. Dan saya berharap ini yang terakhir kalinya untuk saya. Pengalaman kehamilan dengan kasus IUFD tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Nanti akan saya ceritakan di part yang berbeda.

Untuk bagian akhir tulisan kali ini, ijinkan saya untuk mengenang anak pertama saya. Muhammad. 

Mas Muhammad. 
Hadiah terindah di ulang tahun pernikahan kami yang ketiga. 
Terima kasih mas sudah memilih bapak dan ibu untuk menjadi orang tua mas. 
Kita memang belum pernah bertemu secara langsung. 
Tapi yakinlah mas, ibu dan bapak jatuh cinta untuk pertama kalinya ketika garis dua itu muncul di testpack. 
Tidak bertemu di dunia karena nanti kita akan berkumpul di akhirat.
Jemput ibu dan bapak nanti di surga ya nak.
Kita berkumpul bersama-sama dengan adek.


Suami, sesaat setelah pemakaman Mas Muhammad

Comments