Kalau di bagian pertama saya menulis tentang apa itu IUFD dan pertama kalinya saya mendengar istilah IUFD. Kali ini saya akan menuliskan tentang tindakan dan perawatan yang dokter terapkan ketika saya mengalami kasus IUFD di tahun 2018 lalu.
Tindakan dan perawatan.
Penerbangan
kami seharusnya jam 2 siang WITA, tapi kami sampai di bandara Juanda jam 6 sore
WIB karena pesawat sempat mengalami delay selama kurang lebih 3 jam.
Sesampainya di bandara, orang tua dan om saya sudah menanti untuk menjemput
kami berdua. Dalam perjalanan menuju kota kelahiran saya, kami hanya sempat
mampir untuk makan malam kemudian langsung melanjutkan perjalanan.
Setibanya
di kota kelahiran, Sabtu malam, waktu menunjukkan jam 10 lewat. Ibu meminta
saya untuk langsung menuju salah satu rumah sakit swasta tempat dimana saya
akan melakukan perawatan. Melakukan pendaftaran dan menceritakan kronologis
kejadian, kami diminta perawat untuk menunggu karena dokter jaga malam itu
sedang melakukan beberapa tindakan operasi. Cukup lama kami menunggu sampai
akhirnya nama saya dipanggil. Dokter melakukan USG kembali dan mengatakan bahwa
iya, janin telah meninggal. Dokter memberikan beberapa saran kapan perawatan
mau dilakukan. Malam itu juga bisa langsung pesan kamar. Suami dan ibu kompak
menjawab malam itu juga. Tapi saya langsung menimpali dan meminta ijin jika
diperbolehkan besok pagi saja karena saat itu saya sangat lelah dengan drama
perjalanan kami dan juga saya belum sempat tidur dari kemarin. Dokter
mengijinkan dan mempersilahkan untuk pulang dan berisirahat dan datang kembali
besok jam 9 pagi. Setelahnya kami langsung pulang dan malam itu saya tidur
dengan sangat nyenyak.
Keesokan
harinya, setelah mandi, sarapan dan packing beberapa perlengkapan persiapan
menginap, kami berangkat menuju rumah sakit. Perjalanan dari rumah menuju rumah
sakit tersebut hanya ditempuh kurang lebih 15 menit. Sesampainya di rumah
sakit, saya langsung diminta untuk menuju ruang IGD. Sembari suami melakukan
pendaftaran, saya mulai dipasang infus, dan perawat memasukkan sesuatu seperti
obat ke dalam vagina saya. Jangan ditanya rasanya ya gaess. Hehe. Baru saya
ketahui bahwa itu adalah obat untuk merangsang agar rahim saya melakukan
kontraksi. Perawat mengatakan bahwa akan diobservasi efek dari obat tersebut
selama 4-5 jam. Setengah jam kemudian, mertua saya datang, wah ambyarrr lagi
ini mata gaess. Tapi bapak mertua menguatkan bahwa saya harus pasrah dan
ikhlas. Kalau ibu mertua hanya bisa mengelus kepala saya sambil menangis.
Satu jam kemudian, saya dipindah menuju kamar. Saat itu banyak saudara dekat yang datang menjenguk karena kebetulan juga hari Minggu. Jadilah di dalam kamar ramai riuh penuh dengan candaan selama saya menanti getaran kontraksi. Lima jam pertama berlalu. Perawat memeriksa apakah sudah terjadi bukaan, apakah saya merasakan kontraksi. Saya jawab tidak. Belum. Memang benar saya belum merasakan apa-apa. Bahkan sebelumnya saya sempat meminta suami untuk membelikan saya bakso langganan kesukaan saya. Dan makan siang dari rumah sakit pun saya habiskan tak tersisa. Laper apa doyan. Wkwk. Karena belum terjadi pembukaan, perawat memasukkan obat lagi ke dalam vagina saya. Dan saya harus menunggu lagi selama 4-5 jam. Hari itu total obat induksi yang dimasukkan ke dalam vagina saya adalah 4 obat. Terakhir kali dimasukkan jam 11 malam dan akan diperiksa lagi keesokan harinya. Jika belum juga terjadi pembukaan, maka saya akan dibawa ke ruang operasi untuk tindakan selanjutnya. Malam itu alhamdulillah saya tidur dengan nyenyak.
Keesokan
harinya sekitar jam 4 atau jam 5 pagi saya lupa, perawat masuk untuk memeriksa
kondisi saya. Pembukaan belum juga terjadi. Kontraksi belum juga terasa.
Perawat meminta saya untuk puasa beberapa jam sampai nanti jam 7 pagi akan dilakukan
persiapan tindakan operasi.
Jam 7
lewat, perawat masuk kamar untuk melakukan persiapan tindakan operasi seperti
mencukur rambut di sekitar area bawah dan mengganti pakaian saya dengan jubah
warna hijau yang selama ini hanya saya lihat di film-film. Kemudian saya didorong
menggunakan kursi roda menuju ruang tunggu operasi ditemani ibu saya. Suami
kemana? Suami ada, menunggu di luar kamar karena dia punya fobia terhadap darah
dan segala macam alat medis. Awalnya kesel ini orang kok nggak mau nemenin
bininya. Tapi saya maklumi daripada dia pingsan tambah bikin repot. Hihi.
Sejam
menanti di ruang tunggu operasi, sebelumnya ada beberapa kali suntikan saya
lupa. Sepertinya itu obat bius. Tidak lama perawat meminta ibu saya untuk
keluar karena ternyata operasi tidak boleh ditemani. Wah nervous gaess. Tapi
ibu berpesan untuk banyak-banyak berdoa. Yakin semuanya akan segera selesai.
Lalu
perawat mendorong tempat tidur saya menuju ruang operasi. Suasana kaku dan
dingin mulai terasa. Tapi dicairkan dengan salah seorang perawat laki-laki yang
terus mengajak saya ngobrol untuk menghilangkan rasa nervous. Yang terakhir
saya ingat, beberapa kali saya diberi suntikan kemudian kaki diangkat menuju
dada. Setelahnya saya hanya dapat mendengar perawat perempuan memanggil nama
saya dan mengatakan bahwa operasi telah selesai. Alhamdulillah. Dan perawat
tersebut meminta suami saya untuk terus mengajak saya bicara. Entah apa saja
yang waktu itu saya obrolkan dengan suami. Saya lupa. Suami bilang saya
bertanya berkali-kali dengan pertanyaan yang sama, anaknya sudah keluar atau
belum. Setelah saya benar-benar sadar waktu sudah menunjukkan jam 10 siang.
Kembali lagi saya bertanya kepada suami apakah anak kami sudah keluar. Suami
menjawab belum. Tentu saya kaget. Lah tadi masuk ruang operasi itu ngapain.
Kemudian ibu saya datang dan menjelaskan bahwa calon cucunya tidak dapat
dikeluarkan dengan jalan operasi karena ukurannya yang sudah besar dan terjadi
pelengketan dengan rahim saya. Tidak mungkin dipaksa karena jika dipaksa
dikhawatirkan rahim ikut tertarik dan resiko terbesar dari pengangkatan rahim adalah
kemungkinan kecil bagi saya untuk hamil kembali. Sekali lagi Tuhan meminta saya
untuk sabar, pasrah dan ikhlas.
Tidak
berapa lama, perawat datang mengecek infus saya. Belakangan saya baru tahu bahwa
saya diinduksi melalui infus. Kata sepupu saya itu namanya didrip. Saya tidak
tahu istilah kedokterannya. Sejam kemudian kontraksi halus mulai terasa.
Seperti kram perut ketika masa haid. Kontraksi terus berlanjut dan semakin
terasa sampai beberapa jam kemudian. Kejadian yang sempat membuat panik
keluarga saya adalah saya menggigil kedinginan tengah malam. Tapi badan saya
berkeringat. Perawat pun dipanggil. Infus dimatikan. Pendingin kamar juga
dimatikan. Bisa jadi itu adalah efek dari obatnya kata perawat. Tapi kalau di
flashback, selama menikah bahkan sebelumnya, saya pernah beberapa kali
mengalami menggigil seperti hari itu tanpa penggunaan obat sebelumnya. Biasanya
kalau tidur tiba-tiba kedinginan terus menggigil, padahal harinya panas. Pernah
juga setelah mandi tiba-tiba menggigil padahal cuacanya tidak hujan atau
mendung. Sejak 2018 itu sampai sekarang saya menulis ini, saya mengalami
menggigil beberapa kali. Dan sampai sekarang tidak tahu penyebabnya apa. Usut
punya usut, ibu saya pun sering mengalami hal tersebut. Apakah iya yang saya
alami adalah turunan dari ibu saya? Entahlah. Perlu pemeriksaan lebih lanjut
untuk itu.
Kembali
lagi ke pengalaman kontraksi dan menggigil yang tidak diketahui sebabnya tengah
malam itu, saya berusaha untuk tidur dan suami selalu memeluk saya agar
menggigil berkurang. Selimut dua lapis dan pelukan suami membuat saya lumayan
tertidur malam itu. Meskipun tidak dapat tidur nyenyak karena kontraksi yang
semakin terasa.
Keesokan
paginya, karena perut yang kosong, saya meminta tolong ibu mertua untuk
menyuapi saya dengan makanan atau buah. Pagi itu hanya ada ibu mertua dan
suami. Ibu saya harus ke tempat kerjanya ‘setor muka’ karena kemarin harus ijin
tidak datang. Pagi itu kontraksi semakin terasa dan jaraknya semakin singkat.
Setiap kali kontraksi belangsung, suami memegang tangan saya dan bersama-sama
kami melakukan nafas panjang. Terus begitu. Kata suami agar kontraksinya tidak
terlalu terasa. Entah dapat ilmu atau baca dari mana, saya manut aja.
Jam 8 pagi,
ketika ibu mertua akan menyuapi saya dengan sepotong pisang, kontraksi hebat
itu kembali datang. Dengan bantuan suami saya melakukan nafas panjang tapi kali
itu berat dan panjang sekali saya mengambil nafas hingga akhirnya ‘’plung’’
seperti ada yang keluar, perut saya terasa kosong dan lega. Lalu saya bilang ke
ibu mertua dan suami, kok sepertinya ada yang keluar. Berdua kalang kabut
mencari perawat, tidak berani melihat apa yang saya bilang sesuatu tadi. Oh ya,
saya pakai kain jarik dan selimut sehingga tidak terlihat apa yang keluar
kecuali harus membuka selimut dan kain jariknya.
Tidak lama
perawat datang dan memeriksa, ‘’Iya bu, ini sudah keluar tapi plasentanya masih
belum sepenuhnya keluar. Ibu saya pindah ke ruang bersalin ya.’’ Saya pun
dipindah ke ruang bersalin untuk mengeluarkan plasenta dan juga proses
pembersihan rahim. Rasanya wes embuh yaa. Diobok-obok itu area bawah kayak mati
rasa karena beberapa hari kemarin perawat memeriksa pembukaan berulang kali.
Ketika perawat mengatakan bahwa jenis kelamin anak saya laki-laki, tetesan air
mata tidak sanggup saya tahan. Saya teringat suami yang begitu mendambakan anak
laki-laki di kehamilan ini. Saya berusaha menahan tangis dan menarik nafas
panjang. Perawat juga menanyakan apakah saya mau melihat bayi saya, saya katakan
tidak. Kenapa? Karena saya tidak sanggup melihatnya, saya takut saya semakin
trauma dan susah move on dari kesedihan. Biarkan kenangan indah selama
kehamilan yang saya simpan.
Setelah janin dikeluarkan dan rahim saya dinyatakan bersih, ibu dan suami bergegas untuk pulang dan menguburkannya dengan dibantu ayah dan tokoh agama setempat yang sudah standby di rumah. Selama di ruang bersalin, saya ditemani ibu mertua. Cukup lama saya di ruang bersalin. Saya pun akhirnya makan disuapi ibu mertua karena sudah lemas sekali dari kemarin tidak sanggup makan. Setelah beberapa jam di ruang bersalin, suami dan ibu datang. Perawat mengatakan bahwa saya akan dipindah ke kamar tapi sebelumnya saya diminta untuk belajar bangkit dari tempat tidur, duduk dan berjalan sebentar. Kalau dirasa sudah tidak pusing saya bisa dipindahkan ke kamar. Tapi nggak jalan kaki loh gaess, tetep pakai kursi roda. Hehe.
Sesampainya
di kamar saya mulai belajar berjalan, ke kamar mandi untuk BAK dan mengganti
perlak rumah sakit dengan pembalut. Sore harinya, dokter yang menangani saya
datang untuk visite dan memeriksa keadaan saya. Semuanya dinyatakan oke dan
saya diperbolehkan pulang sore itu juga. Alhamdulillah. Pemulihan pun berlanjut
di rumah.
2018 adalah
pengalaman IUFD yang pertama dan membawa trauma selama berbulan-bulan. Ternyata
di akhir tahun 2019 ini saya mengalami IUFD yang kedua kalinya. Iya, kedua
kalinya. Dan saya berharap ini yang terakhir kalinya untuk saya. Pengalaman
kehamilan dengan kasus IUFD tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Nanti
akan saya ceritakan di part yang berbeda.
Mas Muhammad.
Hadiah terindah di ulang tahun pernikahan kami yang ketiga.
Terima kasih mas sudah memilih bapak dan ibu untuk menjadi orang tua mas.
Kita memang belum pernah bertemu secara langsung.
Tapi yakinlah mas, ibu dan bapak jatuh cinta untuk pertama kalinya ketika garis dua itu muncul di testpack.
Tidak bertemu di dunia karena nanti kita akan berkumpul di akhirat.
Jemput ibu dan bapak nanti di surga ya nak.
Kita berkumpul bersama-sama dengan adek.
Hadiah terindah di ulang tahun pernikahan kami yang ketiga.
Terima kasih mas sudah memilih bapak dan ibu untuk menjadi orang tua mas.
Kita memang belum pernah bertemu secara langsung.
Tapi yakinlah mas, ibu dan bapak jatuh cinta untuk pertama kalinya ketika garis dua itu muncul di testpack.
Tidak bertemu di dunia karena nanti kita akan berkumpul di akhirat.
Jemput ibu dan bapak nanti di surga ya nak.
Kita berkumpul bersama-sama dengan adek.
![]() |
| Suami, sesaat setelah pemakaman Mas Muhammad |


Comments
Post a Comment