Skip to main content

Catatan di Telepon Genggam (Part 2)



Probolinggo, 2 Desember 2019 (18.26 wib)
Rindukah Engkau kepada rintihan kami Ya Allah?
Rencana apa yang Engkau siapkan untuk kami berdua Ya Allah?
Tidak, kali ini kami tidak marah ataupun kecewa kepadaMu.
Insya Allah kami yakin.
Atau mungkin lebih tepatnya kami mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini memang yang terbaik untuk kami.
Maafkan kami yang masih juga sedih dan berusaha untuk sepenuhknya ikhlas dan sabar, Ya Allah.
Kami yakin Engkau mampu kuatkan kami.

Probolinggo, 10 Desember 2019 (09.45 wib)
H+5 setelah proses lahiran.
Obat yang diresepkan pasca operasi telah habis. Kram di bagian perut mulai terasa. Ketika BAK dan BAB rasanya penuh perjuangan sambil sesekali merintih kesakitan. Jalan pun terkdang harus sedikir menunduk untuk mengurangi rasa sakit.
Sejak kemarin siang, payudara kiri terasa bengkak dan nyeri. Bertanya dalam hati ini kenapa. Mau tanya ibu atau kakak perempuan, keduanya masih kerja. Nggak mau ganggu via whatsapp. Akhirnya mencoba istirahat dan berbaring berharap sakitnya mereda.
Semakin sore bengkak tidak hanya di sebelah kiri, sebelah kanan pun mulai terasa. Sepulang ibu kerja langsung cerita ini kenapa payudara kok rasanya bengkak dan terasa nyeri. Kata ibu bisa jadi karena proses pembentukan sel-sel ASI. Ibu menyarankan untuk dikompres dengan air hangat untuk mengurangi nyeri dan agar payudara tidak sampai mengeluarkan ASI. Jadilah malam hari menjelang tidur mengompres kedua payudara sampai akhirnya mengantuk dan tertidur. Semoga segera mereda. Aamiin.

Probolinggo, 11 Desember 2019 (22.00 wib)
Ke kamar mandi untuk BAB atau sekedar BAK terasa sangat melelahkan. Perut bagian bawah kram. Sakit banget. Belum lagi kalau payudara tiba-tiba terasa nyeri. Double meringis.
Kesakitan di rumah sendirian rasanya semakin sedih. Ibu kerja, adek ngurus bisnis kopinya, ayah keluar kurang tahu kemana, dan suami yang biasanya selalu standby di samping saya, sedang ada keperluan untuk urus beberapa dokumen penting.
Sambil meringis kesakitan, mencoba berbaring di kamar, membuka handphone dan menuliskan pesan singkat untuk suami sambil berderai air mata,
“Mas, kalau sudah selesai langsung pulang ya. Aku sendirian. Perutku sakit.”
Tidak ada balasan.
Setengah jam kemudian suami datang, ini nggak tau kenapa makin ambyaaarrr nangisnya begitu suami datang. Hormon mungkin. Hihi. Suami masuk kamar langsung minta maaf,
“Memang baru selesai, yang,” katanya.
Saya jawab sambil terisak, “Iya mas aku tahu. Mungkin karena tadi aku sendirian.”
Kemudian suami bertanya seberapa sakitnya, perlu ke dokter nggak, beli obat nggak. Awalnya saya menolak karena takut beli obat sembarangan tanpa resep dokter. Tapi akhirnya saya meminta suami untuk membelikan anti nyeri karena sudah tidak sanggup lagi menahan sakitnya. Suami bergegas menaruh tas dan mengganti sepatu dengan sandal, minum segelas air kemudian pergi lagi ke apotik.

Comments