Skip to main content

Writing Through Grief


Tidak pernah terpikirkan bahwa menulis akan menjadi se-rajin ini.
Dari dulu memang suka menulis. Pada jamannya, hampir kebanyakan anak sekolah mempunyai diary. Menuliskan apa kegiatan sehari-harinya. Iya dulu nulisnya per hari loh. Meskipun setiap harinya ya gitu-gitu aja. Wkwk. Kadang seru, kadang biasa. Kalau seru panjaaaaaaang kali nulisnya. Kalau biasa ya kadang biasa aja bahkan terkadang nggak nulis saking biasanya hari berlalu.

Menginjak dewasa, teknologi semakin canggih, menulis semakin jarang. Sesekali saya menulis di buku catatan kecil kemudian menuliskan kembali di-office word. Pernah dulu saya menangis karena tulisan yang saya simpan di-pc komputer rumah hilang sekejap mata karena pc terserang virus. Data yang tersimpan sama sekali tidak ada yang dapat diselamatkan. Marah-marah ke ayah, kenapa sih kalau memasukkan flashdisk nggak di-scanning dulu, kan jadi kemasukan virus deh pc-nya. Tapi menangis dan marah pun tidak membuat data-data dalam pc terselamatkan. Tetap saja hilang. Kemudian saya jadi malas menulis.

Seiring berjalannya waktu, saya mengenal yang namanya blog. Mencari tahu cara pakainya lalu iseng membuat akun di salah satu portal blog. Awalnya bingung, masa iya pengalaman pribadi ditulis di blog. Kan jadinya dibaca banyak orang. Kalau dulu menulis di-diary yang baca hanya saya. Tapi lama-kelamaan ketagihan juga. Apa-apa ditulis di blog. Sampai tugas untuk mahasiswa pun di tulis di blog. Iya, saya pernah jadi dosen lembaga di salah satu universitas di Malang.

Lalu, smartphone merajalela. Media sosial semakin asyik dan seru. Blog pun berubah menjadi sarang laba-laba. Lebih sering membuka dan mengupdate keseharian di media sosial ketimbang di blog. Meskipun tidak jarang ada ide menulis yang sering saya ketik di handphone. Sebagian besar ketikan di notes itu sudah saya pindah ke blog. Sebagian kecil masih tersimpan rapi di notes handphone.

Tiba-tiba ada satu momen yang membuat saya berada di titik terendah dalam hidup saya. Kehilangan calon bayi dalam kandungan. Entah kenapa menulis menjadi semakin rajin. Dan dengan menulis saya merasa seperti “diobati”. Segala kekacauan dalam pikiran dan batin lama kelamaan menjadi ringan. Saya merasa dengan menulis, saya seperti berteriak dalam hati. Saya merasa lega. Menumpahkan semua keluhan dan perasaan yang nggak karu-karuan tanpa takut dihakimi orang lain itu rasanya nyaman.

Comments