Buka-buka blog lagi dan ternyata ada tulisan tiga tahun lalu yang belum sempat ter-publish.
Daripada hanya jadi draft, lebih baik dikeluarkan saja. Monggo...
Banjarbaru, Maret 2015
"Piye nduk kabare? Sehat? Kerasan?"
"Mbak, gimana disana? Rame ndak? Betah?"
"Assalamualaikum Bu, bagaimana disana? Kerasan ya? Kesibukannya apa sekarang?"
"Mbak, disana sampean ngapain aja? Sudah kerja? Katanya peluang kerja disana lebih besar loh. Apalagi kalau lulusan Jawa pasti lebih diperhitungkan."
"Dek, sudah ada tetangganya? Kalau belanja gimana? Pasarnya jauh nggak?"
Itulah sebagian kecil pesan yang sering saya terima semenjak saya pindah domisili mengikuti suami ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Hampir setiap hari ada yang menghubungi saya baik itu via telepon ataupun pesan singkat. Baik itu keluarga terdekat, kerabat atau teman kerja dulu.
Awalnya jengah sampai kadang uring-uringan. Dan kalau sudah uring-uringan, objek pelampiasannya the one and only...my lovely husband. Ketika saya berceloteh dan berkeluh kesah masalah tersebut suami hanya tersenyum dan berkata "Sabar. Itu tandanya mereka perhatian. Dibalas saja apa adanya. Ndak usah jadi badmood gitu," sambi mencubit pipi saya yang tidak chubby ini. Sekali-dua kali diberi penjelasan yang sama oleh suami belum juga memuaskan hasrat mangkel saya sampai terkadang dia bilang, "Ya sudah kalau mau uring-uringan terus. Nanti adek yo capek sendiri." Dan benar juga. Kalau saya mangkel yang rugi juga saya. Akhirnya...di-yasudahlah-kan saja.
8 Februari 2015
Malang, pukul tujuh pagi (rumah mertua).
Selesai sarapan dan bersiap menunggu jemputan ke bandara. Hari ini ceritanya saya akan dijemput dan diantar oleh keluarga besar saya. Pukul tujuh lewat beberapa menit, keluarga besar saya datang menjemput. Setelah mengobrol sebentar, kami pun berpamitan untuk segera berangkat ke Bandara Juanda, Sidoarjo.
Sidoarjo, sekitar pukul sembilan pagi.
Alhamdulillah perjalanan lancar dan tidak macet. Tiba di Juanda sekitar pukul sembilan dan penerbangan masih dua jam lagi yaitu pukul sebelas. Karena waktu yang masih agak longgar dan sembari menunggu kakak dan om, saya dan suami pun melakukan check in terlebih dahulu, kemudian kami kembali keluar untuk mengobrol dan berpamitan kepada keluarga. Suasana haru biru. Saya menahan sekuat tenaga agar air mata ini tidak sampai jatuh tepat dihadapan orang tua dan keluarga besar saya. Berusaha sekuat tenaga untuk memberikan senyum terbaik saya. Sempat saya menoleh ke belakang dan melihat ibu dan kakak mengusap air matanya. Saya balas dengan senyum dan kembali melangkah di samping suami.
Ketika pesawat yang saya tumpangi meninggalkan Pulau Jawa, dada saya sesak dan tiba-tiba air mata jatuh dan tidak terkontrol. Suami memberikan senyumnya dan memeluk saya sambil berkata "Bismillah..." dan saya pun menangis di pundaknya.
Hari pertama dimana saya (akhirnya) menginjakkan kaki di tanah Borneo. Tepat satu minggu setelah acara pernikahan di kampung halaman saya (Probolinggo) dan tepat dua hari setelah acara pernikahan di tempat suami (Malang).
Bismillah...
Comments
Post a Comment