A phobia (from the Greek: φόβος, Phóbos, meaning "fear" or "morbid fear") is a a type of anxiety disorder, usually defined as a persistent fear of an object or situation in which the sufferer commits to great lengths in avoiding, typically disproportional to the actual danger posed, often being recognized as irrational. (http://en.wikipedia.org/wiki/Phobia). Meanwhile, Ophidiophobia is an extreme fear of snakes.
Saya tidak begitu ingat kapan tepatnya mulai mengidap phobia ini. Yang masih saya ingat adalah ketika memasuki usia SMP, ketakutan itu sangat besar. Bukan hanya untuk melihat objeknya secara langsung, bahkan melihat gambarnya saja tidak sanggup.
Pernah di Minggu pagi, saya menyempatkan diri untuk membaca sebuah koran. Begitu memasuki halaman kedua tertulis headline "Ditemukan Sebuah Ular Phiton di Halaman Rumah Seorang Warga" disertai gambar sekelompok warga menangkap ular tersebut. Dan secara spontan, saya langsung melempar koran yang saya baca tanpa mau mengambil kembali koran tersebut. Dan tanpa saya sadari, bulu kuduk saya berdiri dan keringat dingin keluar. Bahkan ketika mendengar kata 'ular' saja, badan merinding tak karuan.
Ketika saya menceritakan hal ini kepada teman terdekat, pertanyaan yang terucap adalah "Nggak mau sembuh?" Mau banget. Sangat mau. Tapi...saya takut. Loh? Hehehe.
Terapi yang saya lakukan secara perlahan adalah berusaha memberanikan diri melihat objeknya baik berupa gambar ataupun secara langsung. Setiap kali membaca koran ataupun majalah yang menampilkan gambar objek tersebut, saya memberanikan diri untuk melihatnya meskipun hanya beberapa detik dengan keringat dingin yang 'ndrodos' tak karuan. Setiap kali melihat tontonan di TV pun saya berusaha untuk membiarkan siaran tersebut menyala dalam beberapa detik. Untuk melihat secara langsung pernah saya lakukan ketika mengunjungi Secret Zoo di Malang. Ketika itu terdapat seekor objek di luar kandang dan sang pawang disampingnya. Saya harus berjalan melewati objek tersebut untuk melanjutkan rute menuju area berikutnya. Mau tidak mau, suka tidak suka saya akhirnya memberanikan diri berjalan melewati objek tersebut dengan sebagaian mata yang tertutup tangan. Takut tapi penasaran. Bingung kan? Saya apalagi :D
Namun terapi diatas bisa diterapkan sekali-kali di rumah. Dan alhamdulillah ketakutan saya berkurang meskipun belum sepenuhnya hilang.
hihihihi
ReplyDelete